bvr

now browsing by tag

 
 

Jual BVR NASA, Solusi Pengendali Hama Kebal Pestisida

jual bvr nasa natural nusantara agensia hayati pestisida serangga hama tanamanJual BVR NASA, Solusi Pengendali Hama Kebal Pestisida. Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Dalam pengendalian serangan OPT tersebut seringkali kita jumpai jalan pintas yaitu dengan menggunakan pestisida kimia.

Sebagaimana telah diketahui bahwa penggunaan pestisida kimia yang tidak bijaksana akan menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Dengan pertimbangan  dampak negatif yang kemungkinan besar akan muncul dengan penggunaan pestisida tersebut. Maka perlu diupayakan teknologi pengendalian yang lebih aman dan ramah terhadap lingkungan.

Hal ini sesuai dengan penerapan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan bagi petani.

Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan jamur penyebab penyakit pada serangga, yaitu jamur patogen Beauveria bassiana.

Hal ini menjadi salah satu dasar PT. NASA dalam menjaga lingkungan hayati tanah yang alami dan berupaya mencari solusi bagi petani. Sehingga PT. NASA kini berinovasi dengan menyediakan kebutuhan petani berupa jamur Beauveria bassiana.

Formula tersebut sudah dalam bentuk produk, yaitu NATURAL BVR. BVR berupa spora yang disediakan dalam kemasan praktis, dengan petunjuk penggunaan yang lengkap dan penyebaran produk yang luas serta merata di berbagai daerah.

Selain itu metode pengaplikasian yang sederhana serta didukung sosialisasi yang intensif dari PT. NASA cukup memberi solusi bagi petani dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi.

jual produk pupuk organik kesehatan herbal kecantikan kosmetik vitamin ternak nasa natural nusantara distributor stokis resmi

Beberapa keunggulan Agensia Hayati  Beauveria bassiana sebagai pestisida hayati / biopestisida adalah sebagai berikut  :

  1. Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.
  2. Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.
  3. Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman
  4. Mudah diaplikasikan, tinggal aduk dengan air dan semprot ke seluruh bagian tanaman.

Beauveria bassiana / bvr sebagai biopestisida, tentu tidak mencemari dan merusak lingkungan seperti yang terjadi jika kita menggunakan pestisida kimia. Keberhasilan dari insektisida biologis dari jamur ini memberikan dampak positif yang sangat besar terhadap pengendalian serangga hama tanaman dan keselamatan lingkungan. Oleh karena itu memerlukan upaya sosialisasi yang lebih intensif.

Mari kembali ke pestisida alami dan hayati untuk kendalikan Hama, selain efektif, juga sehat di badan.

 

Order BVR NASA

KLIK GAMBAR DIBAWAH

jual produk nasa

INTIGROW – Distributor Resmi NASA

(Natural Nusantara)

Komplek Ruko Griya Hinggil Blok RB

Jl. Bibis Raya KM 8 Bangunjiwo Bantul DI. Yogyakarta

Telepon / SMS

0812 2652 3400 Simpati

0813 2766 9906 Simpati

0822 2071 4181 Simpati

Whatsapp

0812 2652 3400

0813 2766 9906

Budidaya Bawang Putih di Dataran Rendah

budidaya-bawang-putih-di-dataran-rendah-bvr-supernasa-glio-pestona-produk-natural-nusantaraBudidaya Bawang Putih di Dataran Rendah. Permintaan terhadap komoditas bawang putih selalu mengalami peningkatan. Padahal, produksi bawang putih dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Dalam mencukupi kebutuhan bawang putih pemerintah harus impor bawang putih dari luar negeri. Selain untuk bumbu masakan, bawang putih bisa digunakan untuk pengobatan.

Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih adalah terbatasnya jumlah petani yang membudidayakan bawang putih karena keterbatasan varietas bawang putih. Saat ini, varietas yang tersedia hanya cocok untuk ditanam di dataran tinggi (> 800 m dpl). Varietas bawang putih dataran rendah memberikan peluang khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri  untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Varietas bawang putih yang cocok dikembangkan di dataran rendah adalah sebagai berikut.

  • Lumbu putih.

Daerah yang pertama mengembangkan varietas ini adalah Yogyakarta. Umbinya berwama putih. Umbi memiliki berat sekitar 7 g dengan diameter 3-3,5 cm, jumlah siung per umbi 15-20 buah. Daun berukuran sempit, lebamya kurang dari 1 cm. Posisi daun tegak dan produksi rata-ratanya 4-7 ton/ha.

  • Jati barang

Varietas ini banyak dikembangkan di daerah Brebes, Jawa Tengah. Umbinya berwarna kekuningan tetapi kulit luamya tetap putih. Umbi agak kecil dengan diameter sekitar 3,5 cm. Sebuah umbi memiliki berat sekitar 10-13 g. Jumlah siung terdiri ari 15-20 buah dan rata-rata produksinya antara 3-3,5 ton/ha.

  • Bagor Varietas

Varietas ini berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Kulit umbinya putih buram berdiameter 3-3,5 cm. Umbinya berwama kuning. Bentuk umbi agak lonjong. Berat sebuah umbi hanya 8-10 g dengan jumlah siung 14-21 per umbi. Dari satu hektar lahan dapat dihasilkan 5-7 ton bawang putih.

  • Sanur

Bawang putih varietas sanur banyak dikembangkan di Pulau Dewata, Bali. Umbinya berukuran besar, berdiameter 3,5-4 cm. Sebuah umbi memiliki berat 10-13 g. Selubung kulit berwarna putih, umbinya sendiri berwarna kuning. Susunan siung pada umbi tidak teratur dengan jumlah siung per umbi 15-20 buah. Hasil umbi yang dapat dipanen sekitar 4-6 ton/ha.

Dalam budidaya bawang putih di dataran rendah yang harus diperhatikan diantaranya adalah:

  1. Persiapan lahan

Tanaman bawang putih dataran rendah tumbuh pada hampir semua jenis tanah, namun yang terbaik pada tanah bertekstur sedang (lempung sampai lempung berpasir) dengan pH tanah antara 5,6 – 6,8. Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu. Pada umumnya bawang putih tahan suhu panas, namun tanaman bawang putih hanya dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki suhu yang dingin (dibawah 25 derajat celcius).  Waktu tanam terbaik untuk bawang putih dataran rendah yaitu bulan Mei, Juni atau Juli.

Pembajakan tanah dilakukan dengan intensitas sebanyak 2-3 kali dalam satu minggu. Selanjutnya buat bedengan selebar 60-150 cm dan tinggi 20-50 cm. Sedang untuk panjang bedengan disesuaikan dengan luas lahan. Buatlah parit di antara bedengan untuk irigasi dengan lebar 30-40 cm. Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan selama 1 minggu kemudian taburkan secara merata di atas bedengan.

  1. Penanaman

Dalam proses penanaman, umbi bibit yang digunakan harus memiliki ukuran yang seragam. Umbi ditanam dengan kedalaman 2-3 cm. Untuk jarak tanam dapat disesuaikan dengan ukuran siung yang digunakan, misalnya jika bobot siung lebih berat dari 1,5 gram maka jarak tanamnya 20 cm X 20 cm, atau bila bobot siung lebih ringan dari 1,5 gram, maka jarak tanamnya 15 cm x 15 cm atau 15 cm x 10 cm.

  1. Pemupukan

Untuk pemupukan berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah. Jika menggunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di bedengan.

Untuk tambahan siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.

  1. Pemulsaan

Untuk mempertahankan kondisi tanah setelah penanaman, bedengan ditutup dengan jerami secara merata (pemulsaan). Pemulsaan berfungsi  untuk mempertahankan kondisi tanah, mempertahankan suhu dan kelembaban permukaan, selain itu untuk memperbaiki struktur tanah, apabila jerami telah membusuk. Pemulsaan dilakukan pada musim kemarau, karena jika pada musim hujan dapat menyebabkan kelembaban tanah terlalu tinggi sehingga kurang baik bagi tanaman.

  1. Pengairan

Untuk mengairi tanaman bawang putih dapat dilakukan dengan cara menggenangi parit di antara bedengan. Pada awal penanaman, penyiraman dilakukan setiap hari. Setelah tanaman tumbuh baik, frekuensi pemberian air diberikan seminggu sekali. Pemberian air dihentikan pada saat tanaman sudah tua atau menjelang panen, kira-kira berumur 3 bulan sesudah tanam atau pada saat daun tanaman sudah mulai menguning.

  1. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman bawang putih dilakukan dengan menyiangi gulma serta perbaikan bedengan dengan selang waktu 20-30 hari. Ketika tanaman bawang putih masuk fase generatif, penyiangan tidak lagi dilakukan karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi. Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan pembubunan. Pembubunan terutama dilakukan pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Selain itu perlu diberikan pupuk susulan.

  1. Pengendalian hama dan penyakit
    Berikut beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman bawang putih:
  • Hama Ulat bawang, (S. litura dan S. Exigua)

Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak. Jika terdapat penyerangan, maka sebaiknya penyiraman dilakukan pada siang hari. Pencegahan menggunakan BVR atau PESTONA.

  • Penyakit Bercak Ungu atau Trotol

Disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mengering ujungnya. Untuk pencegahan gunakan GLIO.

  • Penyakit Antraknose atau Otomotis

Penyakit disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak. Jika ada gejala tanaman terserang segera dicabut, dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah kendalikan dengan GLIO.

  • Penyakit oleh virus, gejala pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit.
  • Busuk umbi oleh bakteri, umbi yang terserang menjadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen.
  • Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.

Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu.

  1. Masa Panen dan Pascapanen

Waktu panen dari tanaman bawang putih tergantung dari varietasnya, tapi waktu rata-rata yang dibutuhkan sejak masa tanam hingga waktu panen sekitar 90 – 120 hari. Ciri-ciri dari tanaman yang telah siap panen yaitu terjadinya perubahan warna pada daun, dari hijau menjadi kuning dengan tingkat kelayuan 35-60%. Ketika menjelang panen inilah semua kegiatan pemupukan, pengairan dan penyemprotan pestisida harus dihentikan.

Agar umbi bawang putih dapat tahan lama sebaiknya dilakukan pengeringan. Pengeringan umbi dapat dilakukan dengan cara :

  • Dijemur di bawah terik matahari.
  • Pengeringan dapat dilakukan di dalam rak berlapis dengan cara digantung,.
  • Pengeringan dapat pula dilakukan dengan menggunakan metode pengasapan, yakni menempatkan bawang putih di dapur. Selanjutnya bawang putih tersebut diasapi dengan menggunakan asap yang berasal dari air yang sengaja di masak.
  • Untuk memperpanjang umur umbi bawang putih, saat dilakukan penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi dengan tablet 55% Phostoxin.

Order Produk NASA

KLIK GAMBAR DIBAWAH

jual produk nasa

INTIGROW – Distributor Resmi NASA

(Natural Nusantara)

Komplek Ruko Griya Hinggil Blok RB

Jl. Bibis Raya KM 8 Bangunjiwo Bantul DI. Yogyakarta

Telepon / SMS

0812 2652 3400 Simpati

0813 2766 9906 Simpati

0822 2071 4181 Simpati

Whatsapp

0812 2652 3400

0813 2766 9906

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kedelai

panduan-cara-budidaya-tanaman-kedelai-natural-nusantara-distributor-resmi-pupuk-organik-nasa-pocnasa-hormonik-supernasa-pentana-pestona-power-nutrition-bvr-glio-metilat-plus-npk-urea-greenstarPengendalian hama dan penyakit tanaman kedelai sangat diperlukan. Berikut beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai:

  1. Aphis glycine

Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Virus ini menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala yang diakibatkan oleh kutu ini adalah tanaman menjadi layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian tanaman kedelai dari kutu ini adalah:

  • Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan
  • Buang bagian tanaman terserang dan bakar,
  • Gunakan musuh alami (predator maupun parasit)
  • Semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.
  1. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)

Kumbang ini bertubuh kecil, hitam bergaris kuning dan bertelur pada permukaan daun. Gejala yang ditimbulkan: larva dan memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Cara pengendalian dari kumbang ini dengan  PESTONA.

  1. Ulat polong (Ettiela zinchenella)

Ulat polong menimbulkan  lubang kecil pada buah. Sewaktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian dengan cara tanam tepat waktu.

  1. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)

Lalat ini menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Cara pengendalian : pada saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

  1. Ulat grayak (Spodoptera litura)

Ulat ini menimbulkan kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Cara pengendalian dari ulat ini adalah

  • Sanitasi
  • Semprotkan Natural Vitura  pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman).
  1. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)

Penyakit layu bakteri menimbulkan gejala  adalah tanaman layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian dari penyakit ini dengan pemberian Natural GLIO.

  1. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)

Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala yaang ditimbulkan adalah daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian : tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal.

  1. Anthracnose (Colletotrichum glycine )

Antharacnose menimbulkan gejala daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian dari penyakit ini adalah :

  • Perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat
  • Pencegahan di awal dengan Natural GLIO.
  1. Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)

Penyakit Karat menimbulkan gejala yaitu daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian dari penyakit ini adalah:

  • Menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit
  • Semprotkan Natural GLIO + gula pasir

10. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp). Busuk batang menimbulkan gejala batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendaliannya dengan cara  memperbaiki drainase lahan; dan tebarkan Natural GLIO di awal. 

Order Produk  NASA

KLIK GAMBAR DIBAWAH

jual produk nasa

INTIGROW – Distributor Resmi NASA

(Natural Nusantara)

Komplek Ruko Griya Hinggil Blok RB

Jl. Bibis Raya KM 8 Bangunjiwo Bantul DI. Yogyakarta

Telepon / SMS

0812 2652 3400 Simpati

0813 2766 9906 Simpati

0822 2071 4181 Simpati

Whatsapp

0812 2652 3400

0813 2766 9906